防災教室
今日の日本語教室は、通常の授業に加え、災害時におけるモスクの存在意義についても考えを巡らせる時間となりました。
かながわ国際交流財団の職員の方、慶應義塾大学SFC野中葉研究会「ムスリム共生プロジェクト」に所属する髙橋さん、同研究会および大木研究室(防災社会デザイン研究室)に所属する杉村さんをお迎えし、日本における一般的な防災の知識や現状、そして個々人の考えに至るまでお話を伺うことができました。
かながわ国際交流財団の職員の方からは、これまで実施された講座などで共有された現状の課題と想定される対応策の紹介や、すぐに役立つパンフレット、情報ツールについて教えていたただきました。学習者の皆さんはすぐに情報ツールをスマートフォンにインストールしていました。

杉村さんは、常に携帯しているという防災ポーチを見せてくださり、皆、興味津々でした。ポーチの中にあった「ようかん」はあずきからできており、インドネシア人にとってもなじみのある味で、非常食としても取り入れやすいのではという話も出ました。杉村さんの、防災に対する深い興味と知識に刺激を受け、皆が「もっと防災について考えていかなければ」という気持ちになりました。
防災について説明するときに、その用語は外国人でなくとも難解なことがあります。しかし、ムスリム、防災、そしてもちろんインドネシアについて学び続けている髙橋さんだからこそできる通訳によって、日本語学習者の皆さんの理解も深まったようで、真剣に聞き入り、メモを取る様子が見受けられました。

私たちにとって礼拝や日常的な活動の場であるモスクは、地域防災の視点に立った時に、どのような活用の可能性があるのか。
これはこのモスクができる前から私たちが考えてきたことですが、今日は、具体的な一歩を踏み出すきっかけとなる貴重な1日となりました。
Kelas Edukasi Kebencanaan
Pada kelas bahasa Jepang hari ini, selain mengikuti pelajaran seperti biasa, kami juga meluangkan waktu untuk memikirkan peran dan makna masjid pada saat terjadi bencana.
Kami menerima kunjungan dari staf Kanagawa International Foundation, Takahashi-san dari Muslim Kyosei Project (Proyek Hidup Berdampingan dengan Muslim) di Laboratorium Nonaka, Keio University SFC, serta Sugimura-san yang tergabung di laboratorium yang sama dan juga Laboratorium Desain Sosial Kebencanaan. Dari mereka kami memperoleh penjelasan mengenai pengetahuan dasar kebencanaan di Jepang, kondisi yang dihadapi saat ini, hingga cara pandang dan kesiapsiagaan setiap individu.
Staf dari Kanagawa International Foundation menjelaskan berbagai tantangan yang telah ditemukan melalui pelatihan-pelatihan sebelumnya, beserta langkah-langkah penanganan yang dapat dilakukan. Beliau juga memperkenalkan berbagai brosur dan aplikasi informasi yang sangat berguna dalam keadaan darurat. Para peserta kelas segera mengunduh aplikasi tersebut ke ponsel mereka.

Sugimura-san memperlihatkan kantong siaga bencana yang selalu beliau bawa ke mana pun. Semua peserta sangat tertarik melihat isinya. Salah satu benda di dalamnya adalah yokan (manisan tradisional Jepang berbahan dasar kacang merah). Karena rasanya mirip dengan makanan yang juga akrab bagi orang Indonesia, muncul pembahasan bahwa makanan tersebut mungkin cocok dijadikan salah satu pilihan makanan darurat. Ketertarikan dan pengetahuan mendalam Sugimura-san tentang kebencanaan menginspirasi kami semua sehingga muncul kesadaran bahwa kami perlu lebih serius mempersiapkan diri menghadapi bencana.
Ketika menjelaskan tentang kebencanaan, istilah-istilah yang digunakan sering kali sulit dipahami, bahkan oleh orang Jepang sendiri. Namun, berkat Takahashi-san yang terus mendalami Islam, kebencanaan, dan tentu saja Indonesia, beliau mampu menerjemahkan penjelasan tersebut dengan sangat baik sehingga para peserta kelas bahasa Jepang dapat memahaminya dengan lebih mendalam. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian sambil mencatat berbagai hal penting.

Bagi kami, masjid adalah tempat beribadah sekaligus pusat berbagai aktivitas sehari-hari. Namun, jika dilihat dari perspektif kesiapsiagaan bencana di tingkat masyarakat, bagaimana masjid dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya penanggulangan bencana?
Pertanyaan ini sebenarnya telah kami pikirkan bahkan sejak sebelum masjid ini dibangun. Hari ini menjadi sebuah kesempatan yang sangat berharga, sekaligus langkah awal yang konkret untuk mewujudkan gagasan tersebut.




