訪問報告書
笹川平和財団およびインドネシア・レイメナ研究所代表団の訪問
テーマ: 宗教間・異文化理解教育の実践
場所: 横浜アッソーリヒーンマスジド
- 訪問の背景・目的
今回の訪問は、宗教間および異文化理解教育の実践について経験や意見を交換し、相互理解、寛容、平和な社会づくりの重要性について意見交換を行うことを目的として実施されました。
特に、マルク州における社会的対立の経験を踏まえ、宗教や文化の違いを超えて地域社会の関係を再構築するための取り組みについて紹介がありました。

- 主な議題
A. 教員研修プログラム ― マティウス・ホー氏
マティウス・ホー氏から、宗教間・異文化理解教育における教員研修では、以下の3つの能力を重視しているとの説明がありました。
- 自己理解能力(Personal Competence)
自分自身のアイデンティティや価値観を理解し、他者との違いを尊重する能力。 - 比較理解能力(Comparative Competence)
異なる宗教や文化の共通点と相違点を客観的に理解し、偏見や誤解を防ぐ能力。 - 協働能力(Collaborative Competence)
多様な背景を持つ人々と協力し、コミュニケーションを取りながら、互いを尊重する能力。
教員は単に知識を教えるだけでなく、生徒たちに平和や相互尊重の価値を伝える重要な役割を担っています。
B. 教育における人格形成の強化 ― マルク州教育局長 Dr. Sarlota氏
Dr. Sarlota氏からは、インドネシアの教育において人格形成を強化することの重要性について説明がありました。
特に、社会的対立を経験したマルク州では、紛争が地域社会の関係だけでなく、子どもたちの人格形成や成長にも影響を与えています。
そのため、教育を通じて違いを受け入れ、対立や憎しみを避け、平和を守ることのできる次世代を育てる必要があるとの話がありました。
- プログラムの実践と成果
宗教間・異文化理解教育は、主に以下のような活動を通じて実践されています。
- Panas Gandong(パナス・ガンドン): マルク州の伝統的な兄弟愛と連帯の精神を大切にし、地域社会の平和と調和を促進する取り組み。
- 教員交流: 異なる宗教的背景を持つ教員同士が訪問・交流し、互いの経験を学ぶ機会をつくる。
- 生徒間交流: 異なる宗教を背景とする学校の生徒たちが交流し、相互理解を深める。
- 平和教育: 授業を単なる知識の伝達にとどめず、生徒自身が平和について考え、発信する機会を設ける。
- 歴史から学ぶ教育: 過去の紛争や対立が起きた原因を学び、同じ過ちを繰り返さないための考え方を育てる。
これらの活動を通じて、生徒たちが多様性を理解し、相手を尊重しながら平和を築く力を身につけることを目指しています。

- 横浜アッソーリヒーンマスジドにとっての意義
今回の訪問と意見交換を通じて、宗教間・異文化理解教育が、多様な人々が共に平和に暮らす社会を築くために重要であることを改めて認識しました。
横浜アッソーリヒーンマスジドにとっても、今回の経験は、マスジドが単なる礼拝やイスラム教育の場にとどまらず、宗教間の対話、文化交流、相互理解を促進する交流の場としての役割を担うための貴重な学びとなりました。
これは、インドネシア、日本、そしてさまざまな国や宗教的背景を持つ人々をつなぐ友好の架け橋となるという、当マスジドの目指す方向性にもつながるものです。
- おわりに
今回の訪問が、教育、宗教間対話、異文化交流、そして平和構築の分野における今後の交流と協力につながることを期待します。
違いは対立の理由ではなく、互いを知り、尊重し、共により良い社会を築くための機会です。
LAPORAN SINGKAT KUNJUNGAN
Sasakawa Peace Foundation dan Delegasi Leimena Institute Indonesia
Tema: Praktik Literasi Antarbudaya dan Keagamaan
Tempat/Tanggal: Masjid As-Sholihin Yokohama, 5 November 2026
Peserta Kunjungan
1. Masjid As-Sholihin Yokohama (MAY)
- Arief Junaidi
- Ardy Afrianzah
- C. Taufik
- M. Saeful Bahri
2. Sasakawa Peace Foundation (SPF)
- Fujimoto Jin
- Nama peserta lainnya: menunggu konfirmasi
3. Delegasi Leimena Institute Indonesia dan Perwakilan Pendidikan Provinsi Maluku
- Matius Ho – Institut Leimena
- Puansari Siregar – Institut Leimena
- Julinar Sinaga – Institut Leimena
- Sarlota Singerin – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku
- Syahid Hendrawan Rumalean – SD Negeri 87 Ambon
- Octovianus Julio Sanamasse – SMAS Kristen Rehoboth Ambon
- Dewi Sartika Rumra – SMAS Alhilaa Ambon
- Salomina Patty – SMAS Kristen Rehoboth Ambon
1. Latar Belakang
Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai penerapan literasi keagamaan dan lintas budaya dalam membangun toleransi, persaudaraan, dan perdamaian.
Delegasi Leimena Institute Indonesia berbagi pengalaman program yang dilaksanakan di Maluku, khususnya dalam membangun kembali hubungan masyarakat setelah konflik sosial.

2. Pokok Pembahasan
A. Program Pelatihan Guru – Matius Ho
Program pelatihan guru berfokus pada tiga kompetensi utama:
- Kompetensi Personal: Memahami identitas diri dan kemampuan menghargai perbedaan agama serta budaya.
- Kompetensi Komparatif: Memahami persamaan dan perbedaan agama serta budaya secara objektif.
- Kompetensi Kolaboratif: Mampu bekerja sama, berkomunikasi, dan saling menghargai dalam keberagaman.
Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga berperan menanamkan nilai perdamaian kepada siswa.
B. Penguatan Karakter Pendidikan – Dr. Sarlota Singerin (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku)
Konflik sosial di Maluku memberikan dampak terhadap hubungan masyarakat serta perkembangan karakter anak-anak. Oleh karena itu, pendidikan karakter sangat penting untuk membentuk generasi yang mampu menerima perbedaan, menghindari permusuhan, dan menjaga perdamaian.
3. Implementasi dan Dampak Program
Program literasi keagamaan dan lintas budaya dilaksanakan melalui beberapa kegiatan:
- Panas Gandong: Menguatkan semangat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Maluku.
- Pertukaran guru: Memberikan kesempatan kepada pengajar dari latar belakang agama berbeda untuk saling mengenal dan belajar.
- Interaksi antarsiswa: Membangun hubungan melalui kegiatan bersama dan pertukaran antarsekolah.
- Pendidikan perdamaian: Mengajak siswa memahami sejarah konflik, penyebab permusuhan, serta pentingnya menjaga perdamaian.
Dengan demikian, pembelajaran di kelas tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga membentuk pola pikir siswa agar terbuka, saling memahami, dan mampu menyampaikan pesan perdamaian.

4. Kesimpulan dan Relevansi bagi Masjid As-Sholihin Yokohama
Kunjungan ini memberikan wawasan bahwa pendidikan dan literasi keagamaan merupakan sarana penting untuk membangun masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman.
Bagi Masjid As-Sholihin Yokohama, pengalaman ini menjadi inspirasi untuk mengembangkan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah dan pendidikan Islam, tetapi juga sebagai ruang dialog, perjumpaan, dan pertukaran budaya antarumat beragama.
Hal ini sejalan dengan cita-cita Masjid As-Sholihin Yokohama untuk menjadi jembatan persahabatan antara masyarakat Indonesia, Jepang, dan komunitas internasional.
5. Penutup
Kunjungan ini diharapkan menjadi awal dari hubungan dan kerja sama yang lebih luas dalam bidang pendidikan, dialog antaragama, pertukaran budaya, dan pembangunan perdamaian.
Perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, menghargai, dan membangun persaudaraan.




